Siapa yang lebih beruntung: yang memberi atau yang menerima? Sekilas yang menerima, karena ia mendapat sesuatu. Ternyata, jawabannya justru sebaliknya.
Pesan yang lengkap
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
Al-yadul-‘ulyâ khairun minal-yadis-suflâ, wabda’ biman ta’ûl, wa khairush-shadaqati ‘an zhahri ghinâ, wa man yasta’fif yu’iffahullâh, wa man yastaghni yughnihillâh.
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan di luar kebutuhan pokok. Siapa yang menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupkannya.” (HR Al-Bukhari, dari Hakim bin Hizam)
Empat tingkatan tangan
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyimpulkan urutan keutamaannya: (1) tangan yang memberi, (2) tangan yang menahan diri dari mengambil, (3) tangan yang menerima tanpa meminta, dan (4) tangan yang meminta-minta.
Apa yang didapat pemberi?
Di dunia, pemberi yang tulus sering mendapat satu atau semua dari lima hal. Sebagian penulis merangkumnya sebagai 5A: harta (balasan materi), tahta (kedudukan dan kemuliaan), kata (sebutan yang baik), cinta (simpati dan kasih sayang), serta vita (kesehatan dan ketenangan jiwa). Di akhirat, bila niatnya lurus karena Allah, balasannya adalah kemudahan hisab hingga surga.
Jadi, mana yang kita pilih?
Hadits ini bukan untuk merendahkan penerima. Ia adalah motivasi agar setiap kita berjuang naik kelas: dari tangan yang meminta, menjadi tangan yang menjaga diri, lalu menjadi tangan yang memberi.
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, No. 1427 (dari Hakim bin Hizam).
- Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bârî Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitab Az-Zakah.
- Ippho Santosa, 7 Keajaiban Rezeki (Elex Media Komputindo, 2010).
- Emsoe Abdurrahman, 25 Hikmah dan Kisah Mencerahkan tentang Sedekah (Tasdiqiya Publisher, 2000)





