“Nanti saja sedekahnya, kalau sudah punya uang lebih.” Kalimat ini terdengar wajar, tetapi Rasulullah ﷺ tidak memberi ruang bagi alasan semacam itu.
Sebuah dialog berlapis
Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ
‘Alâ kulli muslimin shadaqah.
“Setiap Muslim wajib bersedekah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Para sahabat lalu bertanya, bagaimana jika tidak punya apa-apa? Dari sinilah Nabi ﷺ menyusun jawaban berlapis:
- Bekerjalah dengan kedua tangan, sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan bisa bersedekah.
- Jika tidak mampu, tolonglah orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
- Jika masih tidak mampu, ajaklah kepada kebaikan atau lakukan kebaikan apa saja.
- Jika itu pun tidak mampu, tahanlah diri dari berbuat keburukan. Itu pun sedekah.
Pelajaran di balik urutan
Perhatikan urutannya. Lapisan pertama adalah bekerja. Islam tidak mengajarkan kita menunggu belas kasihan, tetapi mendorong kita menjadi pribadi yang produktif agar bisa memberi. Lapisan terakhir justru yang paling mudah sekaligus paling sering dilupakan: menahan lisan dari ghibah, menahan tangan dari menyakiti, dan menahan diri dari merugikan orang lain.
Dengan demikian, tidak ada satu hari pun yang boleh lewat tanpa sedekah. Hari ini mungkin kita belum bisa memberi uang, tetapi kita selalu bisa memilih untuk tidak menyakiti siapa pun.
Rasulullah ﷺ juga berpesan, “Takutlah kepada api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh butir kurma” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Kecil di mata manusia, besar di sisi Allah.
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, No. 1445 dan Shahih Muslim, No. 1008 (dari Abu Musa Al-Asy’ari).
- Shahih Al-Bukhari, No. 1417 dan Shahih Muslim, No. 1016 (dari ‘Adi bin Hatim).





