Allah Mahakaya, tidak butuh apa pun dari hamba-Nya. Lalu, mengapa Dia memakai kata “pinjaman” saat mengajak kita bersedekah?
Ayat yang menggetarkan
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Man dzal-ladzî yuqridhullâha qardhan hasanan fayudhâ’ifahu lahû adh’âfan katsîrah, wallâhu yaqbidhu wa yabsuthu wa ilaihi turja’ûn.
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasannya) dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS Al-Baqarah, 2:245)
Kata “pinjaman” dipilih bukan karena Allah membutuhkan, melainkan sebagai jaminan. Pinjaman pasti dikembalikan, dan yang meminjam di sini adalah Zat Yang Mahakaya dan Maha Menepati janji.
Kebun yang “dipinjamkan”
Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdullah bin Mas’ud. Ketika ayat ini turun, seorang sahabat Anshar bernama Abu Ad-Dahdah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Beliau menjawab, “Ya.”
Abu Dahdah lalu berkata, “Ulurkan tangan Anda.” Ia pun menyerahkan kebun terbaiknya yang berisi sekitar 600 pohon kurma. Setibanya di kebun, ia memanggil istrinya, “Wahai Ummu Dahdah, keluarlah. Kebun ini telah kupinjamkan kepada Rabbku.” Sang istri menjawab dengan kalimat yang indah, “Rabihal-bai'”, perniagaanmu sungguh beruntung.
Rasulullah ﷺ kemudian mengabarkan betapa banyak tandan kurma yang menjuntai di surga untuk Abu Dahdah (HR Muslim).
Pelajaran untuk kita
Yang menarik dari kisah ini adalah kekompakan suami-istri. Keputusan besar untuk bersedekah disambut dengan keyakinan yang sama. Sedekah keluarga menjadi lebih ringan ketika semua anggotanya memahami bahwa yang diberikan tidak hilang, melainkan dititipkan.
Referensi:
- Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, tafsir QS Al-Baqarah, 2:245 (riwayat Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Mas’ud).
- Shahih Muslim, No. 965 (dari Jabir bin Samurah).
- Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 1 (Lentera Hati).





