Secara hitungan kalkulator, sedekah Rp100.000 membuat saldo berkurang Rp100.000. Namun, Rasulullah ﷺ menyampaikan kalimat tegas yang seolah membantah matematika.
Jaminan dari Rasulullah
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Mâ naqashat shadaqatun min mâl, wa mâ zâdallâhu ‘abdan bi’afwin illâ ‘izzâ, wa mâ tawâdha’a ahadun lillâhi illâ rafa’ahullâh.
“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah tidak menambah seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim)
Bagaimana memahaminya?
Imam An-Nawawi menjelaskan dua makna. Pertama, harta itu diberkahi dan dijauhkan dari hal-hal yang menggerogotinya, sehingga kekurangan secara angka tertutupi oleh keberkahan. Kedua, sekalipun jumlahnya tampak berkurang, pahala yang diperoleh jauh menutupi kekurangan itu.
Dalam keseharian, keberkahan ini sering terasa nyata. Kendaraan yang jarang rusak, anggota keluarga yang sehat, atau pengeluaran tak terduga yang tidak jadi datang. Semua itu adalah “penghematan” yang tidak tercatat di buku kas, tetapi sangat terasa.
Doa malaikat setiap pagi
Rasulullah ﷺ juga mengabarkan bahwa setiap pagi dua malaikat turun. Yang satu berdoa, “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.” Yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kerusakan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya).” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Quran pun menegaskan, “Apa saja yang kalian infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki” (QS Saba’, 34:39). Jadi, sedekah bukan pengurangan, melainkan pemindahan: dari saku yang fana ke simpanan yang abadi.
Referensi:
- Shahih Muslim, No. 2588 (dari Abu Hurairah).
- Shahih Al-Bukhari, No. 1442 dan Shahih Muslim, No. 1010 (dari Abu Hurairah).
- Imam An-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahih Muslim, syarah hadits no. 2588.





