“Uang sedang pas-pasan, mana bisa sedekah?” Rasulullah ﷺ justru menyuruh sahabat termiskin untuk tetap berinfak. Ada logika lain yang sedang beliau ajarkan.
Logika matematika vs logika iman
Secara hitungan, memberi berarti berkurang. Namun, rezeki tidak sepenuhnya bekerja dengan logika matematika. Allah Ta’ala menegaskan bahwa tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Dia yang menanggung rezekinya (QS Hûd, 11:6). Pembagi rezeki tidak pernah salah hitung.
Kepada Asma’ binti Abu Bakar, Rasulullah ﷺ berpesan:
أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ، وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ
Anfiqî wa lâ tuhshî fayuhshiyallâhu ‘alaiki, wa lâ tû’î fayû’iyallâhu ‘alaiki.
“Berinfaklah dan jangan menghitung-hitung, nanti Allah akan menghitung-hitung (rezeki) untukmu. Jangan menahan-nahan, nanti Allah akan menahan (rezeki) darimu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Kepada Bilal bin Rabah yang hidup sederhana, beliau pun bersabda, “Berinfaklah, wahai Bilal, dan jangan takut kekurangan dari Pemilik ‘Arsy.” (HR Al-Bazzar dan Ath-Thabrani; dinilai shahih oleh Al-Albani)
Tentang “memancing rezeki”
Kita sering mendengar ungkapan “pancinglah rezeki dengan sedekah”. Ungkapan ini berasal dari riwayat Al-Baihaqi yang sanadnya dinilai lemah oleh para ahli hadits. Meski begitu, maknanya didukung oleh dalil yang kuat, seperti janji Allah untuk mengganti setiap infak (QS Saba’, 34:39).
Yang perlu diluruskan adalah niatnya. Sedekah bukan “umpan” untuk transaksi dagang dengan Allah, melainkan bentuk syukur. Balasan pun tidak selalu berupa uang. Ia bisa datang sebagai kesehatan, keluarga yang rukun, terhindarnya musibah, atau hati yang lapang.
Semakin memberi, semakin dipercaya
Ketika seseorang terbukti amanah menyalurkan titipan Allah, wajar bila Allah menitipkan lebih banyak lagi kepadanya. Di sinilah rahasia para dermawan: rezeki tidak berhenti di tangan mereka, tetapi mengalir melaluinya.
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, No. 2591 dan Shahih Muslim, No. 1029 (dari Asma’ binti Abu Bakar).
- Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahîh Al-Jâmi’ Ash-Shaghîr, hadits “Anfiq Bilâl”.





